SINOM.

Budaya yang dirawat warga.

Adat tradisi, kesenian, dan permainan tradisional masih hidup di Padukuhan Sinom, bersama bahasa dan sastra Jawa, kuliner, serta warisan budaya yang berwujud bangunan dan petilasan.

Bahasa, sastra, dan aksara Jawa.

Bahasa

Bahasa Jawa yang dipakai warga terbagi tiga, yaitu ngoko, kromo madya, dan kromo inggil, sesuai keperluannya. Selain untuk percakapan sehari-hari, bahasa ini dipakai untuk pidato lamaran, serah terima temanten, pembawa acara, ikrar kenduri, sabdo tomo, sabdo panglipur, dan pamit jenazah.

Sastra

Sastra Jawa tetap lestari dalam kehidupan warga, antara lain dalam bentuk geguritan, macapat, dan acara mantenan.

Aksara

Aksara Jawa sebagai warisan leluhur masih lestari di bidang pendidikan dan pada pemberian nama untuk momen yang ingin selalu diingat.

Kuliner dan pengobatan tradisional.

Makanan tradisional Sinom makin digemari semua kalangan karena mudah didapat dan harganya tidak terlalu mahal.

Pengobatan tradisional dengan cara urut maupun pemberian jamu dan ramuan juga masih lestari, dan turut menjaga kesehatan warga.

Makanan tradisional

  • Ratengan (gorengan)
  • Pecel
  • Sayur lombok ijo
  • Tempe bungkil
  • Sambel bawang
  • Nasi thiwul
  • Gathot

Warisan budaya.

Selain berwujud adat istiadat, warisan budaya di Sinom juga berwujud barang dan tempat.

Rumah joglo milik Bapak Suyadi di Sinom RT 02 RW 05

Rumah Limasan atau Joglo

Warisan budaya berwujud barang yang masih berdiri di Sinom. Salah satunya rumah joglo milik Bapak Suyadi di RT 02 RW 05.

Petilasan Watu Amben di Gunung Wungkul Watu Gede, Sinom

Petilasan Watu Amben

Terletak di Gunung Wungkul Watu Gede. Menurut cerita sesepuh, tempat ini dipakai Ki Jayeng Bromo Gendali untuk semedi. Gunung Wungkul dahulu disebut gunung api yang selalu mengeluarkan asap, dan warga khawatir akan terjadi bencana. Ki Bromo Gendali lalu bersemedi di sisi timur gunung, di tempat yang bentuknya mirip amben, sampai apinya padam dan warga sekitar lega karena bebas dari ancaman bencana.